Senin, 28 November 2011

1 Suro di Yogyakarta

Ribuan masyarakat mengikuti ritual mubeng beteng Kraton Yogyakarta untuk memperingati tanggal 1 suro (malam 1 suro), Sabtu (26/11). Malam 1 suro tahun ini juga diperingati dengan penyelenggaraan Ruwatan Mataram oleh beberapa kemunitas kejawen yang ada di Yogyakarta.

Ruwatan Mataram kembali dilakukan beberapa komunitas kejawen diYogyakarta untuk memperingati malam 1 suro di Alun-Alun Utara Kraton Yogyakarta, Sabtu (26/11).
Sebelum ritual mubeng beteng dimulai, dilakukan upacara terlebih dahulu dipimpin oleh adik Sri Sultan Hamengku Buwono, GBPH Joyokusuma. Dalam upacara ini dilakukan doa bersama untuk keselamatan masyarakat seluruh Indonesia.
Setelah pemberian bendera merah putih oleh GBPH Joyokusumo kepada abdi dalem pimpinan ritual mubeng beteng, acara mubeng beteng pun segera dimulai. Ratusan abdi dalem serta ribuan masyarakat yang berada di belakang barisan abdi dalem tampak begitu serius terdiam sambil terus berjalan.
Jalan keluar Keben Kraton yang sebenarna sangat besar tidak cukup untuk jalan abdi dalem dan masyarakat yang harus antri keluar dari Keben.
Sementara itu acara Ruwatan Mataram yang dipusatkan di Alun-Alun Utara Kraton Yogyakarta didahului dengan jalan bisu kelompok Songsong Bawono yang membawa dua gunungan palawija yang akan direbut setelah ritual mubeng beteng kraton selesai dilakukan.
Kelompok Songsong Bawono ini melakukan jalan bisu dari Tugu Yogyakarta menuju Alun-Alun Utara Kraton Yogyakarta. Ratusan masyarakat yang pro penetapan untuk keistimewaan Yogyakarta juga ikut jalan bisu dibelakang rombongan kelompok Songsong Buwono.

Prosesi tapa bisu mubeng benteng dilakukan untuk menyambut Tahun Baru Hijriyah 1 Muharram atau 1 Sura di Keraton Yogyakarta. Ribuan orang berjalan kaki tanpa mengeluarkan sepatah kata pun turut serta mengikuti ritual tahunan mengitari benteng Keraton Yogyakarta.

Selama mengitari benteng Keraton Yogyakarta mereka diam seribu bahasa tidak mengeluarkan sepatah katapun alias tapa bisu. Memang lidah dan mulut adalah organ manusia yang sangat istimewa. Dari sanalah keluar kata demi kata, puluhan ratusan ribuan jutaan miliaran kata yang keluar dari mulut manusia di jagat ini. Kata yang keluar bisa lebih manis daripada madu, bisa lebih pahit daripada empedu, bisa lebih panas daripada api yang membara, bisa lebih dingin daripada es, bisa lebih tajam daripada mata pedang, bisa lebih halus daripada sutera, bisa lebih kasar daripada gerinda, bisa lebih luas dari jagat ini apapun dapat dibahasnya mulai dari manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, mikroba, atom, bahan tambang, sungai, danau, laut, udara, langit, matahari, bulan, bintang, mars, jupiter, pluto, planet, setan, jin, nabi, rasul, malaikat, sorga, neraka, dan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Orang bisa terbujuk terkena rayuan gombal, orang bisa saling berkelahi dan saling bunuh karena kata-kata yang kasar dan menusuk hati, orang bisa mengeluarkan air mata ketika mendengar suara yang menyentuh qalbu, orang bisa dendam mendengar kata-kata cacian dan hinaan, orang bisa menurut mendengar kata halus dan bijak, orang bisa semakin keras mendengar kata yang 'menekan dan memojokkan', orang bisa berbohong untuk menutupi aibnya, orang bisa berbohong untuk melancarkan aksi jahatnya, orang bisa memfitnah untuk menjatuhkan lawannya, orang bisa menyebarkan berita bohong untuk kepentingan kelompoknya, orang bisa takluk terkena kata yang mempesona, orang bisa bingung mendengar statement yang 'samar', orang bisa merasa ayem tenteram mendengar alunan suara orang yang mengaji, orang bisa panik dan menangis mendengar berita musibah dan duka, orang bisa menjadi brutal dan kejam ketika dihina.

Dikutip dari berbagai sumber.




 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar